Keikhlasan seumpama seekor semut hitam dia atas batu hitam di malam yang amat kelam, ianya wujud tapi amat sukar dilihat. Jangan tertipu dengan terangnya bulan kerana di sebalik terang itu banyak kegelapannya...
Tuesday, May 4, 2010
BAHAGIA HAKIKI
HALUSNYA RASULULLAH SAW DALAM BERDAKWAH
Islam itu halus, dia punya seni. Siapa boleh buat yg seni-seni itu yang boleh mengetuk fitrah orang, boleh orang senang, tengok sahaja dah jatuh hati. Itulah watak benda yang seni. Kalau kita berjuang tak seni, macam kita dengar orang pukul besi, dengar sahaja tak larat, fikiran perasaan serabut pasal tak seni. Berjuang yang tak seni pukul pahat sana sini, akhirnya sakit jiwa.
Islam itu seni. Tengok bagaimana seninya Rasulullah SAW,
Contoh ke 1 :
Satu hari baginda bawa Sayidina Umar. Rasulullah tahu Umar ni siapa. Umar ni berani, jiwa kuat, sebelum masuk Islam dah pernah bunuh orang.
Satu hari Baginda ajak Umar pergi tengah padang pasir, ikut jelah tak payah tanya, Rasulullah bawa ke satu lembah, wadi. Di situ ada bangkai unta, kuda, kambing, kepala manusia pun ada, tengkorak manusia pun ada.
Rasulullah kata, “hai Umar apa kau lihat di sini, ini tempat busuk, bangkai binatang ada, manusia pun ada. Dulu mana ada undang bunuh, tangkap, bicara mana ada, bunuh campak sahaja”.
Bila Sayidina Umar lihat ada bangkai binatang dan manusia di situ, dia berkata pada Rasulullah, “ini bangkai wahai Rasulullah, campur antara bangkai manusia dan binatang”.
Rasulullah jawab, “inilah hakikat dunia, orang buru dunia senasib dengan yang kena buru”.
Ini seni. Mana ada tok guru yang ajar begini, kalau di masjid tok guru sekadar bersyarah , mana ada tok guru bawa murid lihat bangkai dan bersyarah depan bangkai tentang dunia?
Contoh ke 2 :
Berlaku juga di zaman Rasululah, orang-orang badwi yang baru peluk Islam, orang badwi ni tak faham adab, tak bertamaddun, walaupun dia masuk Islam tapi banyak lagi yg dia tak faham. Satu hari dia berada di masjid, dia kencing dalam masjid. Rasulullah ada sahabat-sahabat pun ada. Walaupun badwi itu juga seorang sahabat tapi dia baru dididik.
Sahabat-sahabat yang lain apabila melihat keadaan itu naik berang juga, sedangkan wahyu belum sempurna, sahabat ikut apa yg turun waktu itu. Banyak yang mereka tidak tahu lagi, sebab itu ada sahabat yang marah, sahabat nak bertindak. Tapi Rasulullah kata, “TAK APA, biarkan“. Kemudian Rasulullah yang cuci najis, buang, basuh, semua.
Itukan seni. Rasul tak marah, jadi sahabat-sahabat lain yang menyaksikan perbuatan Rasulullah itu terpukullah. Rasulullah bukan sahaja tidak marah malah tolong basuhkan pula.
Macamana tak berjaya Rasulullah didik orang? Jadi sahabat-sahabat lain pun terpukul sama dan yang terkencing itu pun turut insaf. Rasulullah tak marah, dia basuh. Jadi kedua-duanya terdidik. Sahabat menjadi tahu teknik berdakwah, yang terkencing itu insaf.
Sebenarnya Islam itu seni, kalau tak seni orang takkan boleh ikut.
Contoh ke 3 :
Satu hari Rasulullah bawa duit 2 dirham, baginda ke pasar. Di tengah jalan jumpa budak sedang menangis, rupanya dia adalah hamba pada seorang perempuan. Bila lihat budak itu menangis Rasulullah tanya mengapa.
Budak itu jawab, “saya dibekalkan oleh tuan saya duit 2 dirham nak beli sesuatu, tapi duit itu dah hilang, itu yg saya takut. Biasanya kalau saya salah kena pukullah”.
Bila mendengarnya Rasulullah pun terus bagi duit pada budak itu. Setelah selesai membeli belah budak itupun balik, di tepi jalan Rasulullah jumpa lagi budak itu menangis lagi. Lalu Rasullah bertanya, “mengapa menangis? kan saya dah bagi duit?”
Budak itu menjawab, “tadi saya menangis karena hilang duit, yang menangis kali ini karena saya terlewat nak balik, biasanya kena marahlah”. Lalu Rasullah berkata, “kalau begitu tak apalah, saya hantar”. Lalu Rasulullah pun hantarlah. Bila tuan dia tengok Rasulullah, dia pun malulah nak marah.
Kan seni tu? siapa boleh buat macam tu? Kita tengok budak tengah jalan compang camping tak pedulilah, menangis ke tak awak punya pasallah termasuk ulama. Itulah dakwah seni.
Contoh ke 4 :
Satu Hari Raya, Rasulullah nak ke masjid, dia lihat di tepi jalan ada budak-budak bermain-main dan ada sorang yang tak main tapi dia menangis, Rasulullah pun terus pergi kepada budak itu.
Rasulullah sangat sensitif perasaannya, nampak pelik sikit dia terus tanya, “mengapa awak menangis ni, orang lain sedang suka-suka main-main”. Dia pun cerita, “saya sedih ayah dah mati mak saya kahwin lain, ayah tiri biarkan saya, hari ini hari raya saya tak dapat pakaian macam kawan-kawan lain”.
Apa kata Rasulullah? Rasulullah kata, “kau nak tak aku jadi ayah kau, dan Aisyah jadi mak kau?”. Budak itu setuju. Lalu Rasulullah terus bawa balik ke rumah dan bagi pakaian baru padanya.
KECANTIKAN SEJATI..

Adalah kebahagiaan seorang lelaki ketika Allah menganugrahkannya seorang isteri yang apabila ia memandangnya, ia merasa semakin sayang. Kepenatan selama di luar rumah terkikis ketika memandang wajah istri yang tercinta. Kesenangan di luar tak menjadikan suami merasa jengah di rumah. Sebab surga ada di rumahnya; Baiti Jannati (rumahku surgaku).
Kebahagiaan ini lahir dari isteri yang apabila suami memandangnya, membuat suami bertambah kuat jalinan perasaannya. Wajah isteri adalah keteduhan, telaga yang memberi kesejukan ketika suami mengalami kegerahan. Lalu apakah yang ada pada diri seorang istri, sehingga ketika suami memandangnya semakin besar rasa sayangnya? Konon, seorang lelakig akan mudah terkesan oleh kecantikan wajah. Sempurnalah kebahagiaan seorang laki-laki jika ia memiliki isteri yang berwajah memikat.
Tapi keadaan ini segera dibantah oleh dua hal. Pertama, bantahan berupa fakta-fakta. Dan kedua, bantahan dari sabda Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam.
Konon, Christina Onassis, mempunyai wajah yang sangat cantik. Ia juga memiliki kekayaan yang sangat besar. Mendiang ayahnya meninggalkan harta warisan yang berlimpah, antara lain kapal pesiar pribadi, dan pulau milik pribadi juga. Telah beberapa kali menikah, tetapi Christina harus menghadapi kenyataan pahit. Seluruh pernikahannya berakhir dengan kekecewaan. Terakhir ia menutup kisah hidupnya dengan satu keputusan: bunuh diri.
Kecantikan wajah Christina tidak membuat suaminya semakin sayang ketika memandangnya. Jalinan perasaan antara ia dan suami-suaminya tidak pernah kuat.
Kasus ini memberikan ibroh kepada kita bahwa bukan kecantikan wajah secara fisik yang dapat membuat suami semakin sayang ketika memandangnya. Ada yang bersifat psikis, atau lebih tepatnya bersifat qalbiyyah!
Bantahan kedua, sabda Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam: “Seorang wanita dinikahi karena empat hal; karena hartanya, keturunannya, kecantikannya, dan agamanya. Maka pilihlah yang taat beragama niscaya kamu akan beruntung.” (HR. bukhari, Muslim)
Hadist di atas sebagai penguat bahwa kesejukan ketika memandang sehingga perasaan suami semakin sayang, letaknya bukan pada keelokan rupa secara zhahir. Ada yang bersifat bathiniyyah.
Dengan demikian wahai saudariku muslimah, tidak mesti kita harus mempercantik diri dengan alat kosmetik atau dengan menggunakan gaun-gaun aduhai yang akhirnya akan membawa kita pada sikap berlebihan pada hal yang halal bahkan menyebabkan kita menjadi lalai dan meninggalkan segala yang bermanfaat dalam perkara-perkara akhirat, wal ‘iyadzubillah. Namun tidak berarti kita meninggalkan perawatan diri dengan menjaga fitrah manusia, dengan menjaga kebersihan, kesegaran dan keharuman tubuh yang akhirnya melalaikan diri dalam menjaga hak suami. Ada yang lebih berarti dari semua itu, ada yang lebih penting untuk kita lakukan demi mendapatkan cinta suami.
Sesungguhnya cinta yang dicari dari diri seorang wanita adalah sesuatu pengaruh yang terbit dari dalam jiwa dengan segala kemuliaannya dan mempunyai harga diri, dapat menjaga diri, suci, bersih, dan membuat kehidupan lebih tinggi di atas egonya.
Untuk itulah saudariku muslimah… Tuangkanlah di dalam dada dan hatimu dengan cinta dan kasih sayang serta tanamkanlah kemuliaan wanita muslimah seperti jiwamu yang penuh dengan kebaikan, perhatian serta kelembutan. Bukankah kita telah melihat contoh-contoh yang gemilang dari pribadi-pribadi yang kuat dari para shahabiyyah radiyallahu ‘anhunna…?
Janganlah engkau penuhi dirimu dengan ahlak yang selalu sedih dan gelisah, banyak pengaduan dan keluh kesah dan selalu mengancam, karena hal tersebut akan menggelapkan hatimu. Tersenyumlah untuk kehidupan. Seperti kuatnya para shahabiyyah dalam menghadapi kehidupan yang keras dan betapa kuatnya wanita-wanita yang lembut itu mempertahankan agamanya…
Perhiasan jiwa, itulah yang lebih utama. Yaitu sifat-sifat dan budi pekerti yang diajarkan Islam, yang diawali dengan sifat keimanan. Sebagaimana firman Allah, (yang artinya) “Tetapi Allah menjadikan kamu cinta kepada keimanan dan menjadikan iman itu indah dalam hatimu serta menjadikan kamu benci kepada kekafiran, kefasikan, dan kedurhakaan.” (QS. Al-Hujaraat: 7)
Apabila keimanan telah benar-benar terpatri dalam hati, maka akan tumbuhlah sifat-sifat indah yang menghiasi diri manusia, mulai dari Ketakwaan, Ilmu, Rasa Malu, Jujur, Terhormat, Berani, Sabar, Lemah Lembut, Baik Budi Pekerti, Menjaga Silaturrahim, dan sifat-sifat terpuji lainnya yang tidak mungkin disebut satu-persatu. Semuanya adalah nikmat Allah Subhanahu wa Ta’ala yang diberikan kepada hamba-hambanya agar dapat bahagia hidup di dunia dan akhirat.
Wanita benar-benar sangat diuntungkan, karena ia memiliki kesempatan yang lebih besar dalam hal perhiasan jiwa dengan arti yang sesungguhnya, yaitu ketika wanita memiliki sifat-sifat terpuji yang mengangkat derajatnya ke puncak kemuliaan, dan jauh dari segala sesuatu yang dapat menghancurkanya dan menghilangkan rasa malunya….!
Saudariku… jika engkau telah menikah, maka nasihat ini untuk mengingatkanmu agar engkau selalu menampilkan kecantikan dirimu dengan kecantikan sejati yang berasal dari dalam jiwamu, bukan dengan kecantikan sebab yang akan lenyap dengan lenyapnya sebab.
Saudariku… jika saat ini Allah belum mengaruniai engkau jodoh seorang suami yang sholeh, maka persiapkanlah dirimu untuk menjadi istri yang sholihah dengan memperbaiki diri dari kekurangan yang dimiliki lalu tutuplah ia dengan memunculkan potensi yang engkau miliki untuk mendekatkan dirimu kepada Yang Maha Rahman, mempercantik diri dengan ketakwaan kepada Allah yang dengannya akan tumbuh keimanan dalam hatimu sehingga engkau dapat menghiasi dirimu dengan akhlak yang mulia.
Saudariku… ini adalah sebuah nasihat yang apabila engkau mengambilnya maka tidak ada yang akan diuntungkan melainkan dirimu sendiri.
BIDADARI YANG CANTIK JELITA
Mereka sangat cangat cantik, memiliki suara-suara yang indah dan berakhlaq yang mulia. Mereka mengenakan pakaian yang paling bagus dan siapapun yang membicarakan diri mereka pasti akan digelitik kerinduan kepada mereka, seakan-akan dia sudah melihat secara langsung bidadari-bidadari itu. Siapapun ingin bertemu dengan mereka, ingin bersama mereka dan ingin hidup bersama mereka.Semuanya itu adalah anugrah dari Alloh Subhanahu wa Ta’ala yang memberikan sifat-sifat terindah kepada mereka, yaitu bidadari-bidadari surga.Subhanahu wa Ta’ala mensifati wanita-wanita penghuni surga sebagai kawa’ib, jama’ dari ka’ib yang artinya gadis-gadis remaja. Yang memiliki bentuk tubuh yang merupakan bentuk wanita yang paling indah dan pas untuk gadis-gadis remaja. Alloh Subhanahu wa Ta’ala mensifati mereka sebagai bidadari-bidadari, karena kulit mereka yang indah dan putih bersih. Aisyah RadhiAllohu anha pernah berkata: “warna putih adalah separUh keindahan”
Bangsa Arab biasa menyanjung wanita dengan warna puith. Seorang penyair berkata:
Kulitnya putih bersih gairahnya tiada diragukan
laksana kijang Makkah yang tidak boleh dijadikan buruan
dia menjadi perhatian karena perkataannya lembut
Islam menghalanginya untuk mengucapkan perkataan jahat
Al-’In jama’ dari aina’ , artinya wanita yang matanya lebar, yang berwarna hitam sangat hitam, dan yang berwarna puith sangat putih, bulu matanya panjang dan hitam. Alloh Subhanahu wa Ta’ala mensifati mereka sebagai bidadari-bidadari yang baik-baik lagi cantik, yaitu wanita yang menghimpun semua pesona lahir dan batin. Ciptaan dan akhlaknya sempurna, akhlaknya baik dan wajahnya cantk menawan. Alloh Subhanahu wa Ta’ala juga mensifati mereka sebagai wanita-wanita yang suci. Firman Alloh Subhanahu wa Ta’ala, yang artinya: “Dan untuk mereka di dalamnya ada istri-istri yang suci.” (QS: Al-Baqarah: 25)
Makna dari Firman diatas adalah mereka suci, tidak pernah haid, tidak buang air kecil dan besar serta tidak kentut. Mereka tidak diusik dengan urusan-urusan wanita yang menggangu seperti yang terjadi di dunia. Batin mereka juga suci, tidak cemburu, tidak menyakiti dan tidak jahat. Alloh Subhanahu wa Ta’ala juga mensifati mereka sebagai wanita-wanita yang dipingit di dalam rumah. Artinya mereka hanya berhias dan bersolek untuk suaminya. Bahkan mereka tidak pernah keluar dari rumah suaminya, tidak melayani kecuali suaminya. Alloh Subhanahu wa Ta’ala juga mensifati mereka sebagai wanita-wanita yang tidak liar pandangannya. Sifat ini lebih sempurna lagi. Oleh karena itu bidadari yang seperti ini diperuntukkan bagi para penghuni dua surga yang tertinggi. Diantara wanita memang ada yang tidak mau memandang suaminya dengan pandangan yang liar, karena cinta dan keridhaanyya, dan dia juga tidak mau memamndang kepada laki-laki selain suaminya, sebagaimana yang dikatakan dalam sebuah syair: Ku tak mau pandanganmu liar ke sekitar jika kau ingin cinta kita selalu mekar.
Di samping keadaan mereka yang dipingit di dalam rumah dan tidak liar pandangannnya, mereka juga merupakan wanita-wanita gadis, bergairah penuh cinta dan sebaya umurnya. Aisyah RadhiAllohu anha, pernah bertanya kepad Rasululloh Shallallahu’alaihi wasallam, yang artinya: “Wahai Rasululloh Shallallahu’alaihi wasallam, andaikata engkau melewati rerumputan yang pernah dijadikan tempat menggembala dan rerumputan yang belum pernah dijadikan tempat menggambala, maka dimanakah engkau menempatkan onta gembalamu?” Beliau menjawab,”Di tempat yang belum dijadikan tempat gembalaan.” (Ditakhrij Muslim) Dengan kata lain, beliau tidak pernah menikahi perawan selain dari Aisyah.
Rasululloh Shallallahu’alaihi wasallam bertanya kepada Jabir yang menikahi seorang janda, yang artinya: “Mengapa tidak engkau nikahi wanita gadis agar engkau bisa mencandainya dan ia pun mencandaimu?” (Diriwayatkan Asy-Syaikhany)
Sifat bidadari penghuni surga yang lain adalah Al-’Urub, jama’ dari al-arub, artinya mencerminkan rupa yang lemah lembut, sikap yang luwes, perlakuan yang baik terhadap suami dan penuh cinta. Ucapan, tingkah laku dan gerak-geriknya serba halus.
Al-Bukhary berkata di dalam Shahihnya, “Al-’Urub, jama’ dari tirbin. Jika dikatakan, Fulan tirbiyyun”, artinya Fulan berumur sebaya dengan orang yang dimaksudkan. Jadi mereka itu sebaya umurnya, sama-sama masih muda, tidak terlalu muda dan tidak pula tua. Usia mereka adalah usia remaja. Alloh Subhanahu wa Ta’ala menyerupakan mereka dengan mutiara yang terpendam, dengan telur yang terjaga, seperti Yaqut dan Marjan. Mutiara diambil kebeningan, kecemerlangan dan kehalusan sentuhannya. Putih telor yang tersembunyi adalah sesuatu yang tidak pernah dipegang oleh tangan manusia, berwarna puith kekuning-kuningan. Berbeda dengan putih murni yang tidak ada warna kuning atau merehnya. Yaqut dan Marjan diambil keindahan warnanya dan kebeningannya.
Semoga para wanita-wanita di dunia ini mampu memperoleh kedudukan untuk menjadi Bidadari-Bidadari yang lebih mulia dari Bidadari-Bidadari yang tidak pernah hidup di dunia ini. Wallahu A’lam.
(Sumber Rujukan: Raudhah Al-Muhibbin wa Nuzhah Al-Musytaqin [Taman Orang-orang Jatuh Cinta dan Memendam Rindu], karya Ibnu Qoyyim Al-Jauziyyah)
4 PERKARA DIKATEGORI MUNAFIQ
Firman Allah bermaksud, “Apabila orang-orang munafik datang kepadamu (wahai Muhammad), mereka berkata, “Kami mengakui bahawa sesungguhnya engkau sebenar-benarnya Rasul Allah’. Dan Allah sememangnya mengetahui bahawa engkau ialah Rasul-Nya, serta Allah menyaksikan bahawa sesungguhnya pengakuan mereka adalah dusta.” (Surah al-Munafiqun, ayat 1). Dalam al-Quran, Allah menerangkan dengan jelas perihal orang Munafik malah menamakan satu surah, al-Munafiqun bagi menggambarkan bahayanya golongan itu.
Pada zaman Rasulullah s.a.w, mereka sentiasa berdolak-dalih apabila diminta keluar untuk berjihad ke jalan Allah.
Allah s.w.t merakamkan keadaan ini menerusi firman-Nya yang bermaksud: “Dan juga dengan tujuan Ia hendak melahirkan dengan nyata akan orang yang munafik yang dikatakan kepada mereka. Marilah berperang pada jalan Allah (untuk membela Islam), atau pertahankanlah (diri, keluarga, dan harta benda kamu)”… Mereka menjawab: “ Sekiranya kami mengetahui bagaimana hendak berperang , tentulah kami mengikut kamu (turut berperang).” (Surah Ali ‘Imran, ayat 167). Ulama mengkelaskan golongan munafik kepada dua. Pertama, munafik I’tiqadi iaitu kepercayaan dalam hati. Mereka hanya beriman kepada Allah secara luaran.
Mereka hanya berlakon di khalayak ramai, tetapi mendustakan agama Allah yang dibawa Rasul-Nya.
Firman Allah bermaksud: “Dan di antara manusia ada yang berkata: ‘Kami beriman kepada Allah dan hari Akhirat; padahal mereka sebenarnya tidak beriman.” (Surah al-Baqarah, ayat 8). Golongan itu terkeluar daripada agama Allah.
Yang kedua disebut munafik ‘Amali iaitu yang berkaitan dengan perbuatan. Rasulullah s.a.w menjelaskan hal ini dalam hadisnya yang bermaksud: “Tanda orang munafik itu ada tiga; apabila berkata ia berdusta, dan apabila berjanji ia mungkir, dan apabila diberi amanah ia khianat.” (Hadis riwayat Bukhari dan Muslim). Dalam hadis yang lain, Rasulullah s.a.w bersabda yang bermaksud: “Ada empat perkara, sesiapa yang melakukannya maka ia adalah seorang munafik yang jelas. Sesiapa yang melakukan satu daripada empat perkara itu, maka ia mempunyai salah satu daripada sifat munafik hingga dia meninggalkannya iaitu apabila dipercayai ia khianat, apabila bercakap ia berdusta, apabila berjanji ia mungkir dan apabila bertengkar ia mengenepikan kebenaran (menegakkan benang yang basah).” (Hadis riwayat Bukhari). Secara fitrahnya, kita tidak akan terlepas daripada melakukan dosa dan kesalahan. Sudah tentu saban hari kita menuturkan kata-kata, membuat janji dan memikul amanah. Persoalannya, adakah kita melakukan perbuatan berkenaan dengan cara yang betul menurut kehendak Islam? Ataupun kita melakukan perbuatan itu mengikut cara orang munafik melakukannya? Persoalan ini hanya mampu dijawab dengan positif bagi mereka yang memiliki iman yang kukuh.
Tuesday, March 16, 2010
Akhlak Anak cermin Ibu Bapa BERIMAN
">Anak merupakan permata hati bagi kedua ibubapanya. Kehadiran anak-anak adalah penyeri dalam kehidupan sepasang insan yang bergelar suami isteri. Justeru itulah orang Melayu mengungkapkan anak sebagai ‘cahayamata’ yang sudah tentu melambangkan kekudusan perasaan dan ikatan jiwa antara ibubapa dan anaknya. Kelahiran cahayamata sulung biasanya ditatang dengan penuh belaian kasih sayang dan perhatian yang tidak berbelah bahagi. Kenakalan anak-anak biasanya menjadi sumber kemarahan ibu bapa dan anak-anak yang masih kecil tidak berdosa biasanya menjadi tempat melepaskan geram setelah seharian keletihan mengemaskan rumah atau sibuk di pejabat.
Hadith Rasulullah saw “Setiap anak dilahirkan atas fitrah, terpulanglah kepada ibubapa untuk mencorakkannya samada meyahudikannya, memajusikannya atau menasranikannya”. Hadith ini dengan jelasnya meletakkan tanggungjawab pendidikan anak-anak di bahu ibubapa dan bukannya datuk, nenek, saudara mara ataupun guru. Dengan ini ibubapa tidak boleh berlepas tangan menyerahkan pendidikan akhlak ataupun hal-hal pendisiplinan anak-anak kepada pembantu rumah, pengasuh ataupun guru-guru sahaja. Sementara itu pepatah Melayu yang tidak lekang dik panas serta menjadi ingatan sepanjang zaman: Melentur buloh biarlah secari rebung. Pendidikan dan pembentukan keperinadian anak anak hendaknya bernula sedari kecil lagi. Mesti dilakukan oleh kedua duanya sekali, bukan ibu seorang dan bukan juga bapa seorang.
Bagaimana mendidik anak supaya menjadi seorang yang berakhlak mulia, penyantun serta berbudi bahasa dalam usia anak yang masih mentah. Pertama sekali, ibubapa perlulah berusaha untuk memenuhi hak-hak asasi anak seperti yang telah digariskan oleh Islam. Menurut Prof Abdul Rahim Omran, terdapat 10 hak-hak asasi seorang anak iaitu;
1. hak untuk hidup
2. hak untuk mempunyai genetik yang sahih (anak yang dilahirkan dari ibubapa yang sah pernikahannya)
3. hak untuk mempunyai nama yang baik
4. hak untuk mendapat belaian kasih sayang, perlindungan dan penyusuan ibu
5. hak untuk mendapat tempat tidur yang berasingan
6. hak untuk mendapat pendidikan dan ilmu pengetahuan
7. hak untuk dibesarkan di dalam suasana Islam
8. hak untuk mendapatkan setiap sesuatu yang dibelanjakan untuknya dari sumber yang halal
9. hak untuk mempelajari kemahiran hidup dan pertahanan diri
10. hak untuk mendapat layanan yang saksama tanpa mengira jantina atau gender
Jika diteliti dengan begitu halus, apa yang telah digariskan oleh Prof Omran mencakupi keperluan segala aspek-aspek fizikal, mental, emosi dan rohani mahupun maruah diri seseorang individu. Hak yang pertama dan kedua yang digariskan di atas menuntut agar pemuda dan pemudi Islam hari ini tidak berzina sehingga menyebabkan lahirnya anak luar nikah. Anak yang dikurniakan oleh Allah kepada ibubapa adalah sebagai amanah yang memerlukan pertanggungjawaban yang besar. Anak bukanlah hakmilik mutlak ibubapa sehingga ada yang sanggup memperlakukan anak dengan sesuka hati sehingga terjadilah fenomena sumbang mahram, haruan makan anak atau ibu yang sanggup melacurkan anaknya demi mengejar kemewahan hidup.
Dewasa ini kita seringkali dikejutkan dengan kes-kes anak-anak di bangku sekolah yang sudah mula terlibat dengan pelbagai perlakuan jenayah daripada mencuri dan mengugut sehinggalah kepada merogol dan membunuh. Kes-kes ini sangatlah menyayat hati kita sebagai masyrakat yang prihatin dan penyayang. Persoalannya ke manakah perginya ibu bapa kanak-kanak ini? Kebanyakan anak-anak yang dibesarkan dalam suasana yang ekstrim tanpa kasih sayang yang secukupnya akan mudah terlibat dengan gejala-gejala yang merosakkan akhlak. Kasih sayang yang berlebihan juga boleh menyebabkan anak menjadi buta lantas tidak tahu membezakan antara yang baik dan buruk lantaran kehendaknya tidak pernah dibantah atau tindakannya tidak diambil peduli.
Masyarakat seringkali menyalahkan ibubapa sekiranya berlaku perkara-perkara sedemikian. Si bapa pula akan menyalahkan ibu yang menurutnya bertanggungjawab sepenuhnya mendidik anak-anaknya. Sebenarnya kedua-dua ibubapa adalah bertanggungjawab terhadap pendidikan anak-anak. Sikap saling menyalahkan antara satu sama lain sangat merugikan kerana ia tidak menyelesaikan apa-apa masalah.
Al Qur’an menjelaskan bahawa peranan mendidik anak terletak pertama-tamanya di atas bahu seorang bapa manakala ibu sebagai pendokong dan penyokong utamanya. Ini dinukilkan di dalam surah Luqman,ayat 13: “Dan ketika Luqman berkata kepada anaknya, diwaktu dia memberi pelajaran kepada anaknya : Hai anakku, janganlah nkamu mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan Allah adalah benar benar kezaliman yang besar.”. Disini Luqman sebagai seorang bapa, telah memulakan mendidik anaknya dengan memperkenalkannya kepada Allah swt, Pencipta dan Pemilik alam ini. Seterusnya Luqman ( mewakili kaum ‘bapa’) mengajarkan anaknya tentang bahaya syirik dan menasihatkan anaknya tentang beberapa tatacara akhlak yang mulia. Nah, begitulah betapa besarnya perananan kaum bapa dan ini menunjukan bapa memang tidak boleh lepas tangan dalam pembinaan sahsiah anak anak. Dalam perubahan struktur keluarga di zaman ini (dimana kaum ibu juga sama-sama mencari nafkah), tugas bapa bukanlah setakat mencari nafkah untuk keluarga semata mata tetapi harus aktif dan berganding bahu sebagai ibubapa yang berpadu tenaga untuk mengenalkan anak kepada aqidah Islam yang mantap. Keutuhan aqidah inilah yang akan menjamin kemuliaan akhlak anak-anak remaja Islam seperti mana kerapuhan aqidah boleh membawa kepada kegelinciran dari nilai hidup Islam.
Di dalam hal ini Dr. Abdullah Nasih Ulwan di dalam bukunya Tarbiyyatul Aulad Fil Islam (Pendidikan Anak-anak Di dalam Islam) telah merakamkan tujuh tanggungjawab pendidikan iaitu;
1. Tanggungjawab pendidikan keimanan (aqidah)
2. Tanggungjawab pendidikan akhlak
3. Tanggungjawab pendidikan jasmani
4. Tanggungjawab pendidikan mental
5. Tanggungjawab pendidikan rohani
6. Tanggungjawab pendidikan sosial
7. Tanggungjawab pendidikan seks
Dalam kesibukan mengejar kehidupan dunia moden hari ini, ibubapa harus juga tidak ketinggalan menyediakan diri sebagai ibubapa yang berketrampilan. Sebenarnya persiapan ini haruslah bermula semenjak seorang lelaki dan wanita itu bercita-cita hendak mendirikan rumahtangga. Persiapan yang sering ditekankan dan digembar-gemburkan oleh pihak media hanyalah bersifat superfisial iaitu persiapan fizikal seperti hantaran, maskahwin, membeli kereta, rumah dan sebagainya. Tanpa menafikan kepentingan persiapan fizikal, persiapan yang lebih penting untuk melayari kehidupan berumahtangga seterusnya ialah persiapan mental dan emosi. Ramai pemuda dan pemudi Islam yang memasuki alam rumahtangga tanpa persediaan mental dan emosi yang secukupnya menyebabkan mereka tidak berkemampuan menghadapi konflik yang timbul yang mengakibatkan perkahwinan dan keluarga bahagia yang diidam-idamkan berakhir dengan perceraian ataupun menyebabkan sebelah pihak mengalami penderitaan emosi dan mental.
Ibubapa seringkali lalai dari mengingati bahawa sesungguhnya segala tindak tanduk mereka menjadi tontonan dan cerminan anak-anak. Ibubapa kerapkali leka bahawa segala tindakan mereka di hadapan anak-anak adalah sebenarnya ‘didikan’ kepada anak itu sendiri. Ini bermakna bahawa tingkahlaku ibubapa yang garang, pemurah, pemaaf dan sebagainya telah mendidik anak-anak supaya bersikap dengan sikap yang serupa di mana sahaja dan dengan sesiapa sahaja. Sebab itu tidak hairanlah sekiranya anak-anak meniru perkataan-perkataan yang baik mahupun buruk yang terhambur dari mulut ibubapa mereka. Ini juga merupakan satu cabaran yang besar kepada para ibubapa agar mereka membiasakan melatih diri dengan akhlak Islam yang mulia demi pembentukan generasi akan datang yang juga berakhlak mulia.
Akhirnya, semoga para ibubapa dan pendidik sekalian dapat mempertingkatkan iltizam di dalam mendidik cahayamata masing-masing dengan merenung mafhum Hadis Rasulullah s.a.w di bawah;
“Sesungguhnya Allah akan bertanya setiap penanggungjawab akan tanggungjawabnya, apakah dia telah memeliharanya ataupun mensia-siakannya” (Riwayat Ibnu Hibban).
Tanggungjawab anak berbakti kpd Ibu
'SYURGA itu di bawah tapak kaki ibu.’ Begitulah tingginya martabat ibu dan dalamnya makna kata-kata berkenaan yang sangat sinonim serta mudah difahami setiap orang, terutama anak.
Banyak lagi kata mengenai martabat seorang ibu antaranya, ‘cinta ibu tidak pernah lapuk’, ‘cinta ibu adalah yang paling baik daripada segalanya’ dan ‘di sisi ibu adalah tempat yang paling ahlan.’ Semuanya membuktikan kemurnian cinta ibu.
Anak perlu sentiasa mengingati pengorbanan ibu. Mereka boleh memohon maaf kepada ibu yang masih ada serta memberikan hadiah bersesuaian kepada ibu yang mereka kasihi dan sayangi.
Justeru, wanita diamanahkan Allah s.w.t sebagai ibu yang hamil dan melahirkan anak iaitu tanggungjawab paling asas dan penting.
Persediaan untuk menjadi ibu mesti difahami sepenuhnya oleh anak betapa besarnya jasa dan pengorbanan ibu.
Memang patutlah Allah menyuruh kita taat kepada ibu tiga kali lebih daripada bapa disebabkan jasa ibu lebih banyak.
Walaupun bapa juga banyak berkorban untuk membesarkan anak, tetapi pengorbanan ibu hingga menggadai nyawanya.
Antara firman Allah bermaksud: “Dan Kami (Allah) mewajibkan manusia berbuat baik kepada kedua ibu bapanya. Ibunya mengandungnya dengan menanggung kelemahan demi kelemahan (dari awal mengandung hingga menyusukannya); dan tempoh menceraikan susunya ialah dalam masa dua tahun; (oleh yang demikan) bersyukurlah kepada-Ku dan kepada kedua ibu bapamu; dan (ingatlah) kepada Akulah jua tempat kembali (untuk menerima balasan).” (Surah Al-Luqman: 14)
Daripada firman itu, Allah memperincikan beberapa perkara yang wajib disedari iaitu anak diwajibkan berbuat baik kepada ibu bapa, terutama kepada ibu.
Ibu juga menanggung kelemahan demi kelemahan ketika mengandung hingga anak bercerai susu. Manusia juga wajib bersyukur kepada Allah dan berterima kasih kepada ibu bapa.
Faktor yang penting dalam berbuat baik kepada ibu bapa ialah anak jangan sesekali menyakiti hati mereka. Ingatlah kepada sebuah hadis Rasulullah s.a.w bermaksud: “Syurga itu di bawah tapak kaki ibu.” (Hadis riwayat Abu Daud dan An-Nasai)
Anak perlu melaksanakan kewajipan dan tanggungjawabnya kepada ibu bapa dengan menjaga dan melayani mereka yang tua dan uzur.
Gunakanlah bahasa yang lemah lembut dan bersopan dengan mereka.
Tanggungjawab anak terhadap ibu bapa boleh dilakukan dengan berbuat baik kepada mereka dengan berbakti dan berkhidmat kepada kedua-duanya sewaktu mereka masih hidup iaitu ketika sihat atau sakit atau sesudah meninggal dunia.
Firman Allah maksudnya: “Dan hendaklah kamu beribadat kepada Allah dan janganlah kamu menyekutukan-Nya dengan sesuatu apa jua dan hendaklah kamu berbuat baik kepada kedua ibu bapa.” (An-Nisa:36)
Seseorang anak tidak hanya dituntut melayani dan menghormati ibu bapa sekadar berbudi bahasa, malah digalakkan memberi sumbangan kewangan bagi meringankan beban kehidupan mereka.
Inilah hadiah yang paling bermakna daripada seseorang anak yang dilakukan sepanjang masa.
Anak juga digalakkan berdoa dan memohon keampunan terhadap dosa ibu bapa ketika waktu hidup atau setelah meninggal dunia.
Selain itu, mereka dituntut menunaikan amanah dan melaksanakan wasiat serta segala hutang piutang sewaktu masih hidup sama ada berkaitan dengan ibadat fardu ain seperti ibadat puasa, haji dan zakat.
Digalakkan juga mengerat dan menghubungkan silaturahim dengan sahabat dan teman baik ibu bapa ketika hidup atau selepas mereka meninggal dunia.
Seorang anak hendaklah sentiasa berhati-hati dan waspada ketika berkata-kata dan perbuatan supaya jangan sampai menyakiti hati ibu bapa, terutama sekali ibu.
Ketika memelihara ibu atau bapa yang tua dan uzur, seseorang anak hendaklah bersikap sabar dan tabah.
Memang tidak dapat dielakkan pelbagai perangai dan ragam mereka yang tidak menyenangkan, termasuk pemarah, meminta layanan baik dan menyucikan najisnya.
Semuanya ini adalah ujian dan dugaan yang menuntut kesabaran dan balasannya adalah syurga.
Dalam hubungan ini, Rasulullah pernah bersabda bermaksud: “Tidaklah seseorang anak itu membalas jasa ibu bapanya sehingga apabila mendapati ibu bapanya itu menjadi hamba orang, maka dibelinya dan dimerdekakanya.” (Hadis riwayat Muslim daripada Abu Hurairah)